SEHAT ITU PENTING

Jumat, 18 Mei 2012

DASAR KEGAWAT DARURATAN MEDIK




Resusitasi Kardio-pulmoner (RKP) adalah suatu tindakan darurat sebagai suatu usaha untuk mengembalikan keadaan henti napas dan atau henti jantung ke fungsi optimal, guna mencegah kematian biologis.

Resusitasi kardio-pulmonal pada dasarnya dibagi dalam tiga tahap dan pada setiap tahapan dilakukan tindakan-tindakan pokok yang disusun menurut abjad (RJPO/ Peter Safar):

PERTOLONGAN DASAR
  1. Airway control: membebaskan jalan nafas supaya dapat terbuka dan bersih.
  2. Breathing support: mempertahankan ventilasi dan oksigen paru secara adekuat.
  3. Circulation support: mempertahankan sirkulasi darah dengan cara memijat jantung.
lihat, dengar dan rasakan


PERTOLONGAN LANJUTAN
  1. Drug and Fluid: pemberian obat-obatan dan cairan.
    1. Hipotensi: dopamin 200 mg yang dilarutkan dalam 250-500 mL garam fisiologis (tidak boleh dicampurkan bersama Na-bicarbonat). Dapat juga dipakai metaraminol100 mg atau levarterenol 8 mg dimasukkan kedalam salah satu botol infus.
    2. Asidosis metabolik: timbul beberapa menit setelah henti jantung, berikan Na-bicarbonat dosis awal 1 mEq/ KgBB IV atau 1 ampul 50 mg (7,5%) yang mengandung 44,6 mEq ion Na.
  2. Elektrocardiography: penentuan irama jantung.
  3. Fibrillation treatment: mengatasi fibrilasi ventrikel.

PERTOLONGAN JANGKA PANJANG
  1. Gauging: memonitor dan mengevaluasi RKP, pemeriksaan dan penentuan penyebab dasar serta penilaian dapat tidaknya pasien diselamatkan dan diteruskan pengobatan.
  2. Human Mentation: penentuan kerusakan otak dan resusitasi serebral.
  3. Intensive care: perawatan intensif jangka panjang.


Ada juga yang disebut dengan Konsep ATLS. Konsep ini dibagi menjadi 2, yaitu Primary Survey dan Secondary Survey.


PRIMARY SURVEY
  1. Airway
Mulut harus segera dibuka, dibersihkan dan dikeluarkan benda-benda padat dengan tangan. Untuk mengeluarkan cairan, maka posisi kepala dan bahu direndahkan dengan memiringkan kepala kesamping (hati-hati pada pasien dengan trauma).

Penyebab utama obstruksi jalan nafas bagian atas adalah lidah yang jatuh kebelakang dan menutup nasofaring. Selain itu bekuan darah, muntahan, edema atau trauma dapat juga menyebabkan obstruksi tersebut. Ada 3 cara untuk membebaskan obstruksi jalan nafas:
o       Head tilt: leher diekstensikan sejauh mungkin dengan menggunakan 1 tangan.
o       Chin lift: dagu bagian sentral ditarik kedepan dengan menggunakan tangan yang lain.
o       Jaw thrust: jari indeks dan lainnya ditempatkan kedua sisi antara sudut rahang dan telinga serta rahang ditarik kedepan.

  1. Breathing
Merupakan usaha ventilasi buatan dan oksigenasi dengan inflasi dari mulut-mulut, mulut-hidung, atau mulut-alat (S-tube atau bag valve mask). Perhatikan apakah dada pasien memperlihatkan gerakan naik turun atau terdengar udara keluar pada waktu ekshalasi.

Apakah denyut nadi teraba atau suara denyut jantung dan pembuluh darah terdengar dengan stetoskop. Bila nadi teraba, lanjutkan dengan 12 kali inflasi/ menit untuk dewasa, 20 x/ menit untuk anak-anak. Bila nadi tidak teraba, mulai dengan tindakan pijat jantung dan pembuluh darah luar (PJL) untuk memberikan bantuan sirkulasi.



  1. Circulation
o       Lakukan penilaian terhadap warna kulit dan temperatur.
o       Lakukan penilaian terhadap denyut nadi/ jantung dan karakternya.
o       Kontrol perdarahan, resusitasi cairan, jika terdapat syok (pucat, akral dingin, capillary refil time lambat, FN: >100 x/ menit, tekanan darah <100 mmHg) à posisi syok.

Klasifikasi perdarahan

Kelas I
Kelas II
Kelas III
Kelas IV
Kehilangan darah (mL)
<750
750-1500
1500-2000
>2000
Kehilangan darah (volume)
<15%
15-30%
30-40%
>40%
FN
<100
>100
>120
>140
TD
Normal
Normal
Menurun
Menurun
TN
Normal/ meningkat
Menurun
Menurun
Menurun
Tes pucat kapiler
Normal
Positif
Positif
Positif
FN
14-20
20-30
30-35
>35
Urin (mL/ jam)
>30
20-30
5-15
Dapat diabaikan
Status mental
Sedikit cemas
Lemas ringan
Cemas dan bingung
Bingung dan letargi
Penggantian cairan
Kristaloid/ koloid
Kristaloid/ koloid
Kristaloid/ koloid+darah
Kristaloid/ koloid+darah


Penanganan Perdarahan
o       Hentikan perdarahan
o       Posisi syok
o       Pasang 2 infus besar
o       Ambil sample darah, lakukan cross-match dan periksa Hb
o       Beri infus cairan

Shock hipovolemik didiagnosa ketika ditemukan tanda berupa ketidakstabilan hemodinamik dan ditemukan adanya sumber perdarahan.

Menempatkan pasien dalam posisi kaki lebih tinggi, menjaga jalur pernafasan dan diberikan resusitasi cairan dengan cepat lewat akses IV. Cairan yang diberikan adalah Ringer Laktat (RL) dengan jarum infus yang terbesar. Tak ada bukti medis tentang kelebihan cairan koloid pada syok hipovolemik. Pemberian 2-4 L dalam 20-30 menit diharapkan dapat mengembalikan keadaan hemodinamik. Pemasangan infus dilakukan pada 2 tempat. Dapat juga dilakukan pemasangan CVP (Central Venous Preasure).

Bila hemodinamik tetap tidak stabil, berarti perdarahan atau kehilangan cairan belum teratasi. Kehilangan darah yang berlanjut dengan Hb<10g/ dL perlu penggantian darah dengan tranfusi. Jenis tranfusi darah tergantung kebutuhan. Disarankan agar darah yang digunakan telah menjalani tes cross-match.

  1. Disability
o       Evaluasi tingkat kesadaran pasien (compos mentis, apatis, somnolen, sopor, koma).
o       Menilai tingkat kesadaran menurut Glasgow Koma Scale.

Mata: 1. tidak bisa buka mata sama sekali.
         2. buka mata dengan rangsangan nyeri.
         3. buka mata dengan rangsangan suara.
         4. buka mata spontan.

Verbal: 1. tidak ada suara sama sekali.
           2. bersuara tapi tidak jelas.
           3. kata-kata tak berarti.
           4. jawaban kacau.
           5. orientasi baik.

Motorik: 1. tidak bergerak sama sekali.
             2. ekstensi dengan stimulasi rasa nyeri.
             3. fleksi abnormal dengan stimulasi rasa nyeri.
             4. menghindar dengan stimulasi rasa nyeri.
             5. terlokalisi pada stimulasi rasa nyeri.
             6. bergerak menurut perintah.

Interpretasi:
Berat: skor <8
Sedang: skor 9-12
Ringan: skor >13
Normal: 15

o       Lakukan penilaian respon pupil
o       Boleh dilakukan Periksa kesadaran:
        A: awake (sadar penuh)
        V: respon to Verbal
        P: respon to Pain
        U: Unresponsive
                             

  1. Exposure
Lepaskan semua pakaian untuk memeriksa secara menyeluruh. Cegah hipotermia (klorpromazin 25 mg tiap 6 jam/ fenergan 12,5 mg tiap 6 jam).

SECONDARY SURVEY
Dilakukan setelah primary survey komplit (ABCDE telah dilakukan dan fungsi vital telah kembali normal)
  • Tanyakan riwayat trauma
  • Lakukan pemeriksaan fisik (head to toe)
  • Pemeriksaan neurologis lengkap
  • Pemeriksaan lab
  • Evaluasi ulang




Referensi:
  • Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam FK UI edisi IV mei 2007.
  • Kegawat Daruratan Medik Bowsky.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar